Postingan

Menampilkan postingan dengan label Membangun Intelektual Santri Masa Kini

WAHDATUL WUJUD (Syaikh Yusri Rusydi, Mursyid Thariqah, penysarah Kitab Shahih al-Bukhari, Ulama Besar Al-Azhar)

Gambar
Syaikh Yusri Rusydi S alah satu gagasan yang paling banyak menimbulkan kontroversi di kalangan para pengkaji tasawuf ialah gagasan tentang wahdatul wujûd (kesatuan wujud). Gagasan ini sering dinisbatkan kepada seorang mistikus besar Islam bernama Muhyiddin Ibnu ‘Arabi (w. 638 H). Meskipun, sebagaimana dicatat oleh Abul ‘Ila Afifi, Ibnu ‘Arabi bukanlah orang pertama yang mencetuskan gagasan ini. Penjelasan mengenai konsep ini menjadi penting, karena, dalam pandangan Syekh Yusri, ia merupakan “ringkasan” dari seluruh ajaran para sufi. Kalau Anda sudah bisa memahami konsep ini dengan benar—apalagi jika menghayatinya secara serius—maka Anda akan paham tentang inti dari seluruh ajaran para sufi. Kegagalan dalam memahami konsep ini seringkali menimbulkan kesalahpahaman, yang tak jarang berujung dengan penyesatan dan pengafiran manusia-manusia pilihan Tuhan. Lalu apa itu wahdatul wujûd? Tulisan ini tak akan berkecamuk dengan perdebatan teologis-filosofis seputar istilah itu. Tulisan ini hanya...

Membangun Intelektual Santri Masa Kini

Gambar
ِِApakah Anda santri? Santri identik dengan sarung, tapi tidak melulu yang bersarung adalah santri—bisa jadi orang tua santri atau tetangga santri. Di pesantren sarung mempunyai filosofi tinggi, saya mengartikan sarung ialah “sarune dikurung” (sarung). Artinya, sarung merupakan instruksi kehidupan, agar manusia mengedepankan rasa malu, tidak sombong, tidak arogan, apalagi sembrono. Karena itu, dalam kultur pesantren saling menghormati diutamakan, yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda. Manusia mempunyai lima dimensi yang harus dikendalikan; pikiran (akal), perasaan (hati), ucapan, tindakan, dan hawa nafsu. Dan “sarung (sarune dikurung)” mempunyai makna agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsunya. Bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh Arnold Toynbee, “titik lemah manusia adalah bahwa kita belum menemukan jalan yang lebih baik untuk menjaga martabat kita kecuali secara semu menutupi alat dan fungsi hewani kita.” Namun, ...