Postingan

Menampilkan postingan dengan label ilmu

APAKAH LEMBAGA RESMI ZAKAT TERHITUNG SEBAGAI WAL AMILINA ALAIHA / AMIL ZAKAT?

APAKAH LEMBAGA RESMI ZAKAT TERHITUNG SEBAGAI WAL AMILINA ALAIHA / AMIL ZAKAT?. Oleh: Adhitya Kemal, Lc. 1. Muqadimah . Permasalahan ini termasuk ke dalam permasalahan kontemporer yang tidak terjadi di zaman Nabi, Sahabat ataupun para Ulama salaf. Tidak ada 'teks tegas' dalam al-Quran ataupun Sunah yang menyatakan hukum tersebut, maka disinilah peran ulama untuk ber-ijtihad. 2. Pembahasan   A. Siapa Yang Dimaksud Dengan Amil ?  Di dalam kitab Fathul Muin ,  makna al-Aamil adalah:  العامل من يَبعثُه الامامُ لأخْذ الزكاة "Orang yang 'diutus' oleh Imam (pemimpin negeri) untuk mengambil zakat (dari para muzaki)" Definisi diatas menunjukan kriteria penting bagi seorang amil . Redaksi diatas menyebutkan: " yab`atsuhul imam / diutus oleh Imam", artinya kriteria amil haruslah pihak yang mendapatkan mandat dan diutus secara resmi oleh imam (pemerintah) sebagai pengumpul resmi zakat. Redaksi lain dalam Hasyiyah Ianah Thalibin dijelaskan:  و محَل استِحقاقه م...

Adab di Atas Ilmu - Habib Umar Bin Abdurahman al-Atthos r.a. (Penyusun Ratib Al-Atthos)

Gambar
Suatu ketika Habib Umar Bin Abdurahman Al-Atthos r.a. (Penyusun Ratib Al-Atthos) sedang duduk bersama para santrinya. Ada satu santri yang bernama Syekh Ali Baaros r.a. sedang duduk di sampingnya sambil memijit kaki sang guru itu. Habib Umar terdiam sesaat dan berkata kepada santrinya, “Kita kedatangan tamu istimewa, Nabi Khidir AS. Sekarang beliau sudah berada di gerbang depan.” Mendengar dawuh sang guru, para santri berhamburan menuju gerbang depan menyambut kehadiran Nabi Khidir a.s. kecuali Syekh Ali Baaros. Lalu Habib Umar Bin Abdurrahman bertanya kepada Syekh Ali Baaros, “Ya Ali, kenapa kau tidak menyambut Nabi Khidir bersama teman-temanmu yang lain?” Syekh Ali Baaros menjawab, “Wahai guru, Nabi Khidir a.s. datang sengaja menemuimu. Untuk apa aku lepaskan tanganku dari kakimu karena kedudukanmu (yaitu sebagai guru) di mataku (sebagai murid) jauh lebih mulia dibandingkan Nabi Khidir” Mendengar jawaban dari muridnya seperti itu, lalu berucaplah Habib Umar, “Tidak ak...