Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

SARABA AMPAT - MANAQIB SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

Oleh : Tuan Guru Wildan Salman, Martapura. (Dibacakan Beliau Pada Haul Ke 208, Tahun 2016 Silam). ***** Majelis haul yang dimuliakan Allah. Imam Syihabuddin Ahmad bin Hijazi Rahimahullah mengatakan: "Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan dari sebahagian sesuatu ada EMPAT yang mulia, yaitu: 1. Allah Ta’ala menjadikan pada tiap-tiap tahun dengan 12 bulan dan terdapat 4 bulan yang mulia, yaitu: Rajab, Zulqai’dah, Zuhijjah, dan Muharram. 2. Dari malaikat, Allah Ta’ala menjadikan ada 4 malaikat pilihan, yaitu: Jibril, Mikail, Isrofil, dan ‘Azroil. 3. Dari kitab-kitab yang Allah Ta’ala turunkan kepada Nabi-Nabi-Nya terdapat 4 kitab yang besar, yaitu: Kitab Taurat, Kitab Injil, Kitab Zabur, dan Kitab Alqur’an. 4. Dari anggota manusia yang beriman Allah Ta’ala jadikan 4 anggota yang mulia, yaitu anggota wudhu; muka, tangan, kepala, dan kaki. 5. Allah Ta’ala jadikan kalimat untuk mengingat dan mengagungkanNya dengan 4 kalimat, yaitu: Subhanallah wal Hamdulillah wa Lailaha Illall...

GUS DUR dan GURU SEKUMPUL. Politik dan Kualatnya Orang-Orang yang Menghina dan Menjegal Gus Dur.

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama. Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk  bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat. Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-ora...

Gus Dur, Sang Penyelamat Bangsa. Sebuah Refleksi pasca Lebaran dan Pemilu

Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU. Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang. Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo. “Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai. “Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur. “Kok bisa Gus?” “Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri i...