ISLAM NUSANTARA SEBAGAI JALAN TENGAH PERDAMAIAN
ISLAM NUSANTARA SEBAGAI JALAN TENGAH PERDAMAIAN
Sejak runtuhnya turki usmani pada tahun 1922, dekadensi kejayaan islam semakin terasa. Mengingat imperium yang berdiri tahun 1299 ini sebagai penanda terkhir akan masa kejayaan Islam yang di mulai pada pemerintahan Abbasiyah di Bagdad. Dimana para ilmuan yang dahulu sangat gampang di temukan dalam dunia islam, sejak saat itu mulai jarang di temukan bahkan tidak ada sama sekali. Sehingga kegelapan keilmuan yang melanda Eropa, kini berbalik ke arah timur, menyelimuti dunia Islam yang putus asa.
Sejak runtuhnya turki usmani pada tahun 1922, dekadensi kejayaan islam semakin terasa. Mengingat imperium yang berdiri tahun 1299 ini sebagai penanda terkhir akan masa kejayaan Islam yang di mulai pada pemerintahan Abbasiyah di Bagdad. Dimana para ilmuan yang dahulu sangat gampang di temukan dalam dunia islam, sejak saat itu mulai jarang di temukan bahkan tidak ada sama sekali. Sehingga kegelapan keilmuan yang melanda Eropa, kini berbalik ke arah timur, menyelimuti dunia Islam yang putus asa.
Daulah Usmaniyah yang menyatukan tanah arab pada masa kejayaanya, kini kehilangan kendali. Banyak wilayah kekuasaan turki usmani di ambil alih oleh bangsa barat. Seperti al-Jazair, Maroko, Palestina; yang di kuasai oleh Prancis. Sedangkan libanon dan yordania di kuasai oleh Inggris dalam perjanjian sykes-picot pada tahun 1916.
Dari kekalahan kekalahan yang di alami oleh dunia islam, baik kalah di peperangan maupun keilmuan, kemudian banyak pemikir muslim mencari penyebab inti dari kemerosotan Islam yang semakin memperihatinkan.
Maka beberapa pemikir menarik kesimpulan bahwa, jatuhnya Islam terjadi dari tiga hal yaitu. Pertama, karena umat islam yang kaku terhadap agama. Hal ini di asumsikan karena cara umat islam dalam mengembangkan keilmua, sosial, dan politik masih terpaku akan norma norma islam klasik, contoh besarnya fiqih imam madzhab dimana kita dituntut untuk mengetahui keilmuan itu sehingga jarang dari kalangan umat islam belajar sains dan teknologi modern. Maka tidak heran kemudian, umat islam kalah jauh dari bangsa Eropa di dalam pengembangan ilmu modern. Padahal awal dari munculnya kimia, kedokteran, dan astronomi. Itu berawal dari ilmuan ilmuan Islam yang hidup pada masa keemasannya, sebut saja seperti al-Khindi, al-Farobi, al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd adalah sederet nama yang masyhur di kalangan pemikir Islam.
Agar tidak ketinggalan jauh dari barat, para sarjana muslim merekonstruksi pemikiran mereka ke arah yang lebih bebas. dengan pilihan mau atau tidak, dunia islam harus mengikuti barat yang telah lebih maju dari segi peradabanya.
Kemudian dari pemikiran ini, mempengaruhi bapak republik Turki, Kemal Ataturk, untuk mengubah sistem pemerintahan dari absolute ke sekularisme. Meskipun banyak pertentangan dari kalangan ulama, tapi kemal Attaturk bergeming dan hidup ala barat tetap berjalan. Hijab dilarang ke dalam ranah sekolah, pembantaian para ulama adalah sebagian kisah dari kelamnya pemerintah Ataturk.
Turki yang sekuler menyebar sampai ke masayarakat arab, sehingga mereka merasa tidak cocok dengan sistem ini; terutama kalangan ulama. Ulama Arab berpendapat ekor meskipun emas, tetap saja bernama ekor. Sehingga hal ini menjadi polemik baru di kalangan umat islam. Bagi yang cendrung keras menentang, mengikuti sistem barat adalah penghianatan, sebab sehebat apapun sistem mereka, bangsa barat tetaplah musuh yang telah menindas dunia islam khususnya timur tengah hingga menyebabkan banyaknya pendritaan.
Oleh karena itu, bagi yang cenderung keras menentang sekularisme, harus memilki solusi baru agar keluar dari polemik ini, yaitu dengan cara kembali ke Al-Quran dan hadist, ini adalah cara kedua sebagai pilihan, Dan kemudian di anggap paling efektif. akan tetapi persoalannya menjadi semakin rumit karena mereka yang memiliki ide kembali ke Al-Quran dan Hadits, menolak adanya ijma dan qias serta imam madzhab. Sehingga wahabisme yang berhembus semakin kencang di arab saudi. Meluluh lantakkan segala bentuk amaliyah berbentuk bid`ah; tidak peduli hal tersebut bid`ah hasanah yang telah ratusan tahun diajarkan oleh para sahabat. Kemudian hal ini menimbulkankan banyak kekhawatiran dari kalangan ulama yang lebih moderat.
Tujuan umat islam untuk kembali ke Al-Qur'an dan hadits di jadikan tameng radikalisme dengean selogan 'menolak bid`ah', sebab bagi siapa pun yang mengerjakan amaliyah kemudian tidak bersumber dari Al Qur'an dan Rasulullah saw. secara murni akan di anggap menyinpang.
Puncaknya kabar paling mengguncang umat islam adalah pelarangan 4 mazhab di Hijaz. Sehingga banyak kalangan ulama terbunuh gara gara menentang ide gila ini, kemudian recan pemindahan makam nabi Muhammad saw. oleh raja Ibnu Saud sebagai pukulan telak bagi umat islam. Sehingga dengan cara apapun harus di gagalkan.
Di timur jauh ada beberapa ulama yang juga merasa prihatin akan kabar pelarangan ajaran imam madzhab dan pemindahan makam Nabi, mereka adalah kiai Wahab Hasbullah, K.H. Hasyim As'ari, dan K.H. Raden Asnawi kudus. Maka dengan usulan yang di ajukan oleh K.H. Wahab Hasbullah; terbentuklah komite hijaz, Komite Hijaz bersepakat menyusun risalah atau mandat dan materi pokok yang hendak disampaikan langsung kepada Raja Ibnu Sa’ud di Mekkah dalam forum Muktamar Dunia Islam. Risalah Komite Hijaz terdiri dari 5 (lima) poin yang berasal dari pokok pikiran para ulama NU, sebagai berikut (Choirul Anam, 1985):
- Meminta kepada Raja Ibnu Sa’ud untuk tetap melakukan kebebasan bermadzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali.
- Memohon tetap diramaikannya tempat-tempat bersejarah karena tempat tersebut diwakafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah, bangunan Khaizuran, dan lain-lain.
- Mohon disebarluaskan ke seluruh dunia Islam setiap tahun sebelum jatuhnya musim haji mengenai hal ihwal haji. Baik ongkos haji, perjalanan keliling Mekah maupun tentang Syekh (guru).
- Mohon hendaknya semua hukum yang berlaku di tanah Hijaz, ditulis sebagai undang-undang supaya tidak terjadi pelanggaran hanya karena belum ditulisnya undang-undang tersebut.
- Jam’iyyah NU mohon jawaban tertulis yang menjelaskan bahwa utusan sudah menghadap Raja Ibnu Sa’ud dan sudah pula menyampaikan usul-usulan.
Mandat ini pun di setujui oleh raja ibnu saud. Sesampainya di tanah air, delegasi Komite hijaz merasa perlu untuk membangun sebuah organisasi keislaman yang memilki karekteristik sesuai ahlussunah wal jamaah al-Asy`ariyah dan al-Maturidiyah yang telah menjadi pedoman ulama ulama nusantara terhadahulu. Dimana Organisasi ini--kelak--bukan hanya menjadi manhajul harokah bagi agama, akan tetapi juga bagi bangsa Indonesia sebelum maupun sesudah merdeka.
Sehingga pada tahun 1926, NU di dirikan sebagai jawaban atas dilematika islam yang akan di bangun lagi pasca keruntuhan nya. Sedangkan jawaban yang pertama (mengikuti barat secara utuh dengan menekankan sekularisme) dan ( kembali ke Al-Quran dan Hadits tanpa adanya qias dan ijma ulama sehingga menimbulkankan radikalisme) adalah sederet usulan dari pemikir muslim yang banyak menimbulkan kegaduhan; contoh besarnya di Turky dan Arab Saudi. Maka lewat NU solusi membangun islam berdasarkan budaya masing masing adalah ide yang paling relevan. Dimana ide ini kemudian menjadi manhajul fikir sebagai islam Nusantara. pradigma ini di bangun berdasarkan corak islam yang di kembangkan oleh Para Wali seperti Syaikh Jumadil Kubro dan wali songo. Di dalam menangani penduduk jawa yang telah memilki kebudayaan serta keagamaan yang mapan untuk di perkenalkan kepada agama baru Bernama Islam.
Dalam prosenya ulama jawa mencetuskan ide-ide luar biasa. Agama dan budaya disatukan untuk menarik minat orang orang jawa agar memeluk Islam. Tidak menghilangkan karakteristik budaya jawa dan tetap menekankan prilaku sesuai syariah Islam. Seperti wayang tetap di gelar tapi dengan cerita yang berbeda. Pesta pora dengan nasi tumpeng tetap di laksanakan tapi di ubah bacaanya. Ini merupakan gambaran luar biasa tentang berkembangnya Islam Nusantara yang semakin berdiri tegak di timur jauh. Menjadi jalan tengah perdamain hingga saat ini. Dimana umat Islam yang telah di benturkan terhadap radikalisme atas nama agama--sperti isis, si`ah khouti, dan taliban--adalah sederet contoh bagaimana kengeriannya saat ini. Akan tetapi, Islam Nusantara tetap berperan aktif dalam mengobati penyakit kronis Islam dalam menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara karena sejatinya mencintai tanah air adalah sebagian dari iman, memperjuangkanya adalah kewajiban.
Sehingga sudah saatnya Islam Nusantara (yang menjadi manhajul fikr di angakat statusnya menjadi manhajul harokah) untuk tetap melaksanakan islam yang rahmatan lil alamin, yaitu islam yang mengajak bukan mengejek, islam ramah bukan marah, dan islam yang yang merangkul bukan memukul, sebagai identitas eksisnya Islam Nusantara di tengah- tengah masyarakat indonesia
Oleh: M. Holili
Penulis adalah Anggota PIN (Pejuang Islam Nusantara) Sumenep Madura. Berdomisi di Ponpes Nurul Ulum wal Hikam Ambunten
Penulis adalah Anggota PIN (Pejuang Islam Nusantara) Sumenep Madura. Berdomisi di Ponpes Nurul Ulum wal Hikam Ambunten

Komentar
Posting Komentar