Perbaiki salammu, K.H. Subhan Makmun: Beginilah Salam yang Benar Sesuai dalam Al-Quran
Brebes, NU Online
K.H. Subhan Ma'mun, Pengasuh Pesantren as-Salafiyyah Luwungragi, Brebes. berkata, “Kalau menjawab salam, jawablah dengan kalimat wa`alaikumussalâm, jangan wa`alaikum salam.” Demikian Kiai Subhan Makmun mengajarkan kepada peserta kajian kitab Tafsîr Al-Munîr di Masjid Al-Mukarromah komplek Islamic Center Brebes, Ahad, 13/01.
Rais Syuriyah PBNU ini menyampaikan hal tersebut di sela-sela menjelaskan penafsiran Surat an-Nisa ayat 86 yang menuturkan wa idzâ huyyîtum bi tahiyyatin fa hayyû bi ahsana minhâ aw ruddûhâ (bila kalian diberi penghormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau dengan yang sepadannya).
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes ini, orang yang mengucapkan salam kepada kita dengan mengucapkan as-salâmu ‘alaikum kata salâm-nya (di dalam Bahasa Arab) menggunakan al ma’rifat. Maka, sebagaimana perintah ayat di atas membalasnya pun harus dengan menggunakan al ma’rifat biar balasannya sepadan. Dengan demikian, menjawab salam harus dengan kalimat wa`alaikumussalâm, bukan wa`alaikum salâm di mana kata salâm-nya berupa isim nakirah, tanpa al.
Lalu apa perbedaan makna di antara keduanya?
Kiai Subhan menjelaskan bahwa ketika kata salâm menggunakan isim ma’rifat (dengan adanya al di depannya), itu berarti salam (keselamatan) yang disampaikan adalah salam yang berasal dari Allah SWT, bukan salam dari selain-Nya. Namun, bila kata salâm ini diucapkan dalam bentuk isim nakirah (tanpa al di depannya), makna salam ini masih umum, tidak tertentu yang berasal dari Allah SWT.
Karenanya menjawab salam dengan kalimat wa`alaikum salâm tidak sesuai dengan perintah ayat tersebut, karena membalas secara tidak sepadan dengan salam yang diberikan oleh pengucapnya.
Lebih lanjut Kisi Subhan mengisahkan bahwa satu ketika pesantrennya kedatangan Habib Abdullah bin Salim Alkaf dari Pekalongan. Beliau seorang alumni al-Azhar Kairo yang ahli di bidang tafsir. Mendapat kabar bahwa sang habib akan hadir di pesantrennya Kiai Subhan segera mengingatkan para santrinya agar kelak ketika sang habib hadir dan beruluk salam, dijawab dengan kalimat wa`alaikumussalâm, bukan wa`alaikum salam.
Namun, ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Saat sang habib hadir seorang santri yang sebelumnya tidak ikut mendengar peringatan sang kiai berada di bagian paling depan penyambutan. Dan ketika sang habib mengucapkan salam santri ini dengan keras menjawab wa`alakum salam. Mendengar jawaban ini spontan Habib Abdullah menegurnya bahwa itu adalah jawaban yang salah. (Yazid Muttaqin)
K.H. Subhan Ma'mun, Pengasuh Pesantren as-Salafiyyah Luwungragi, Brebes. berkata, “Kalau menjawab salam, jawablah dengan kalimat wa`alaikumussalâm, jangan wa`alaikum salam.” Demikian Kiai Subhan Makmun mengajarkan kepada peserta kajian kitab Tafsîr Al-Munîr di Masjid Al-Mukarromah komplek Islamic Center Brebes, Ahad, 13/01.
Rais Syuriyah PBNU ini menyampaikan hal tersebut di sela-sela menjelaskan penafsiran Surat an-Nisa ayat 86 yang menuturkan wa idzâ huyyîtum bi tahiyyatin fa hayyû bi ahsana minhâ aw ruddûhâ (bila kalian diberi penghormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau dengan yang sepadannya).
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes ini, orang yang mengucapkan salam kepada kita dengan mengucapkan as-salâmu ‘alaikum kata salâm-nya (di dalam Bahasa Arab) menggunakan al ma’rifat. Maka, sebagaimana perintah ayat di atas membalasnya pun harus dengan menggunakan al ma’rifat biar balasannya sepadan. Dengan demikian, menjawab salam harus dengan kalimat wa`alaikumussalâm, bukan wa`alaikum salâm di mana kata salâm-nya berupa isim nakirah, tanpa al.
Lalu apa perbedaan makna di antara keduanya?
Kiai Subhan menjelaskan bahwa ketika kata salâm menggunakan isim ma’rifat (dengan adanya al di depannya), itu berarti salam (keselamatan) yang disampaikan adalah salam yang berasal dari Allah SWT, bukan salam dari selain-Nya. Namun, bila kata salâm ini diucapkan dalam bentuk isim nakirah (tanpa al di depannya), makna salam ini masih umum, tidak tertentu yang berasal dari Allah SWT.
Karenanya menjawab salam dengan kalimat wa`alaikum salâm tidak sesuai dengan perintah ayat tersebut, karena membalas secara tidak sepadan dengan salam yang diberikan oleh pengucapnya.
Lebih lanjut Kisi Subhan mengisahkan bahwa satu ketika pesantrennya kedatangan Habib Abdullah bin Salim Alkaf dari Pekalongan. Beliau seorang alumni al-Azhar Kairo yang ahli di bidang tafsir. Mendapat kabar bahwa sang habib akan hadir di pesantrennya Kiai Subhan segera mengingatkan para santrinya agar kelak ketika sang habib hadir dan beruluk salam, dijawab dengan kalimat wa`alaikumussalâm, bukan wa`alaikum salam.
Namun, ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Saat sang habib hadir seorang santri yang sebelumnya tidak ikut mendengar peringatan sang kiai berada di bagian paling depan penyambutan. Dan ketika sang habib mengucapkan salam santri ini dengan keras menjawab wa`alakum salam. Mendengar jawaban ini spontan Habib Abdullah menegurnya bahwa itu adalah jawaban yang salah. (Yazid Muttaqin)

Komentar
Posting Komentar