Cerdas Financial: 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga, 9 di antaranya pengusaha kaya.

Menjadi Kaya dan Memperbudak Dunia(10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga, sembilan di antaranya pengusaha kaya.)

Kendati Rasulullah pernah tidur dengan pelepah kurma, punya rumah sederhana, dan baju memiliki tambalan, namun Rasulullah SAW nyatanya seorang pengusaha kaya. Untuk menikahi Khadijah RA saja, Rasulullah SAW sanggup menghadiahkan mahar 100 ekor unta. Saat ini, adakah pemuda yang mampu memberi mahar 100 unit mobil, seperti Rasulullah dahulu?

Rasulullah punya makanan kesukaan paha kanan kambing, suka meminum madu, dan susu kambing. Beliau SAW juga gemar bersedekah dan memberi hadiah. Sesuatu yang mustahil dilakukan jika Rasulullah dalam kondisi miskin. Sekali lagi, pola hidup sederhana tidak bisa disamakan dengan miskin atau melarat.

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah SWT, "Katakanlah, 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?' Katakanlah, 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, sisanya kemudian pada hari kiamat.’” (al-A'raf: 32).

Dalam ayat ini diterangkan, perhiasan-perhiasan dunia dan hal-hal yang baik diperuntukkan bagi hamba Allah yang beriman di dunia ini. Sungguh salah jika ada yang mengatakan dunia ini milik orang-orang kafir, sementara orang Islam hanya kaum pinggiran.

Al-Quran jelas mengatakan, mereka yang diberikan berbagai kenikmatan adalah hamba-hamba-Nya yang beriman. Lihatlah kejayaan Islam pada masa lampau, bukti Islam pernah mencengkeram dunia. Kenikmatan dunia didapatkan umat Islam ketika itu seluas-luasnya. Kemudian, sisanya nanti akan mereka terima di akhirat kelak.

Salah satu tanda-tanda seseorang mendapatkan kenikmatan surga di akhirat, ia sudah terlebih dahulu merasakan kenikmatan tersebut di dunia. Menjadi seorang mukmin berarti melewati kehidupan di dunia dengan penuh kenikmatan. Suka dan duka, keduanya sama-sama bisa mengantarkan kepada kenikmatan iman.

Seperti diterangkan sebuah hadis, "Alangkah menakjubkannya menjadi orang beriman. Segala hal yang menimpanya selalu saja berbuah kebaikan. Jika ia berikan kenikmatan, ia bersyukur. Maka, itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia ditimpakan sebuah kesusahan, ia bersabar. Maka, itu juga baik baginya." (HR Muslim).

Memang, untuk bahagia tidak perlu kaya. Bahagia berasal dari hati, bukan dari harta benda. Tapi, ketiadaan harta juga dapat berpengaruh buruk pada kehidupan seorang mukmin. Bagaimana caranya ia akan menunaikan zakat, berangkat haji, atau berangkat berjihad, jika ia tidak mempunyai harta. Bagaimana ia akan bersekolah dan menuntut ilmu agama jika ia tidak mempunyai kecukupan biaya. Intinya, beberapa rukun Islam saja tidak akan mampu dijalankan jika ia tidak mempunyai kecukupan harta.

Untuk itulah, harta dan keindahan dunia diletakkan seorang mukmin di tangannya, bukan di hatinya. Jika ia letakkan di tangannya, ia mampu membolak-balikkan dunia sesuka hatinya. Tetapi, jika dunia ia letakkan di hatinya, ia akan menjadi budak dunia.

10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga, sembilan di antaranya adalah pengusaha kaya. Mereka dengan leluasa berdakwah dan bersedekah dengan hartanya. Namun, tidak satu pun dari mereka yang jatuh cinta pada dunia.
Umar bin Khattab pernah menyedekahkan 2/3 hartanya. Abu Bakar pernah menyedekahkan seluruh hartanya. Merekalah orang kaya yang menjadikan dunia bertekuk lutut dan melayaninya. Sangat bertolak belakang dengan mereka yang diperbudak dunia, tapi tidak mendapatkannya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghayati Makna Basmalah - Prof. Dr. Nazaruddin Umar. MA.

Tetap Bertauhid di Zaman Penuh Ujian, begini wejangan Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A. (Ketum PBNU)

Sudahkah Kita Menjadi Muttaqin? - Prof Dr Nazaruddin Umar MA